Sabtu, 14 November 2009

Tugas Kelompok Kelas VA2 dan VIA3



Buat siswa kelas VIA2...tugas kelompoknya membuat/menyusun mading sekreatif mungkin.

Tugas ini merupakan pelajaran Rubrik Khusus. Nilainya berdasarkan kreatif menyusun dan mencari bahan mading yang relefan. Tugas ini dimulai sekitar Desember, setelah siswa kelas VIA3 selesai.
Salam kreatif..........

Selasa, 10 November 2009

Lidah


Diterbitkan di Harian Metro Riau (Minggu 13 September2009)

Dalam kitab Amsal, dikatakan lidah yang suka berbohong adalah sangat dibenci Tuhan. Ayatnya yang berbunyi “Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong.” Hal ini menandakan peranan lidah itu bisa begitu jahat. Lidah itu bisa begitu bengis di dalam merusak hubungan dengan orang lain, di dalam hubungan dengan diri sendiri.
Lidah adalah salah satu alat bicara yang diberikan Tuhan kepada manusia. Sebagai manusia kita diharapkan mampu memanfaatkan lidah itu dengan sebaik-baiknya dan hendaknya dari lidah kita keluar kata-kata yang menyejukkan. Kalau dihitung-hitung betapa banyak kesalahan lidah selama hidup yang kita jalani.
Sadar atau tidak, dari lidah inilah muncul perkataan bohong. Orang yang suka berbohong selalu dilingkupi rasa khawatir. Orang yang senang bohong, selamanya akan menyimpan kesalahan yang suatu saat akan terbongkar. Saat ini banyak manusia tidak mempedulikan lagi apakah dia sudah berbohong atau tidak.
Banyak orang hanya demi kepentingan sesaat merusak lidahnya untuk berbohong. Kalau kita telusuri kasus pengadilan di negeri ini, banyak para tersangka kejahatan yang tidak mengakui kesalahannya. Para penegak hukum pun berlaku yang sama membohongi sebuah putusan perkara
Banyak koruptur yang tidak mengakui penyelewengan. Bahkan mereka berdalih tidak melakukan hal yang dituduhkan, walapun sudah jelas-jelas terbukti. Selagi bisa melempar kesalahan, hal ini pun dilakukan. Menutupi atau berbohong menjadi santapan sehari-hari para koruptor.
Kasus baru-baru ini yang melibatkan pejabat penegak hukum, misalnya Ketua KPK, ketika diperiksa dari sisi hukum dunia mengatakan tidak ada hubungan asmara antara Antasari dengan Rhani, selalu saja pengelakkan terjadi walau kenyataan telah berbicara, “tidak….., tidak benar saya yang merencanakan aksi pembunuhan itu. Saya tidak terlibat dalam pembunuhan itu, saya juga tidak ada asmara dengan Rhani,” sanggah lidah bohongnya. Bahkan berkelit dengan lidahnya melimpahkan atau mencari-cari kesalahan korbannya yang sudah tewas.
Ini baru pengadilan dunia. Bisa saja si pelaku lepas dari jeratan hukum yang berat atau sama sekali bebas murni. Namun yang tidak dipikirkannya adalah jerat hukum akhir zaman nanti. Siapapun tidak bisa menyembunyikan segala perkataan lidahnya yang pernah terucap. Sebab file-nya terekam lewat media rekam Tuhan dan CCTV Tuhan tidak pernah luput dari hidup yang kita lakoni selama di dunia.
Kita bisa membohongi orang di sekitar kita, membohongi diri sendiri, tetapi Tuhan tahu segalanya. Percuma kita menyembunyikan kebohongan dari-Nya. Kesalahan dan kebohongan kita terkuak lebar-lebar di hadapan-Nya.
Lidah kita yang suka berbohong tentu saja menipu diri sendiri. Lidah kita yang selalu menyakiti hati orang lain tentu akan mendatangkan murka dan permusuhan. Lidah kita yang selalu mengadu domba tentu akan melahirkan pertengkaran dan perkelahian semata.
Lidah merupakan segala permulaan perkataan yang baik, arif dan benar. Namun lewat lidah juga lahir kata-kata bohong, perkataan kasar, menyakiti, fitnah dan lainnya. Selama lidah kita masih penuh kebohongan, selama lidah kita masih banyak kata-kata kasar kita tak bisa tenteram dan memiliki kedamaian di dalam hidup.
Orang yang senangnya menyakiti hati orang lain tentu tidak disenangi teman-temannya. Hal ini terjadi di dalam satu keluarga, sebut saja Keluarga Romi, di mana isterinya yang selalu membohongi si suami dari awal pernikahan. Sebenarnya keluarga isterinya itu tidak menghendaki pernikahan mereka dari sejak pertama, namun si isteri tersebut membohongi diri sendiri dan suaminya sehingga terwujud pernikahan tersebut.
Kebohongan seperti ini bakalan terkuak dengan sendirinya. Hal ini terbukti katika terjadi percekcokan di dalam rumah tangga mereka, seluruh kekesalan dan kebohongan selama ini yang disembunyikan terkeluarkan lewat kata-kata, di mana sebenarnya orang tua isterinya tidak berkenan dengan pernikahan mereka.
Hal ini kembali diperkuat ketika terjadi ketidak-cocokan mereka untuk bersatu kembali. Ketika peristiwa ini sampai ke pengadilan, di sana terbongkar kebohongan penerimaan keluarga isterinya selama ini bahwa sebenarnya kedua orang tua isterinya itu tidak berkenan akan pernikahan mereka. Bahkan kedua orang tua isterinya itu lebih senang anak perempuannya untuk pisah dari suaminya sebab memang sebenarnya mereka tidak suka akan pernikan puterinya ini. Inilah kalau kebohongan disembunyikan, di mana akhirnya lambat laun akan terbongkar juga. Kebohongan tidak mendatangkan kebahagiaan. Hanya kesia-siaan yang dihasilkan.
Suami-suami yang suka membohongi isteri juga sangat dibenci Tuhan. Hal sekecil apapun bohong yang terucap, itu adalah peranan lidah yang tidak bisa dijaga. Seorang suami hendaknya selalu terbuka dan jangan menyimpan kebohongan kepada isterinya, sebab tidaklah benar menyimpan kebohongan akan menghindari masalah. Tidaklah benar berbohong demi kebaikan. Bohong tidak pernah mendatangkan kebaikan. Sebab apapun namanya, kebohongan tetaplah dosa.
Seorang suami yang senang membohongi isteri juga tidak ada yang bakalan selamat dari perbuatan bohongnya itu. Sebab cepat atau lambat kebohongannya itu akan terbongkar. Sepintar apapun dia bermain lidah untuk berbohong, suatu saat akan ketahuan juga.
Lidah yang bohong tidak dikehendaki Tuhan. Makanya kebohongan yang ditutup-tutupi, baik suami atau isteri tersebut akan terbongkar. Ini adalah kuasa Tuhan membongkar kebohongan yang sengaja ditutupi-tutupi.
Mazmur 34:14-15 “Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya.”
Firman Tuhan ini menjadikan dasar bagi kita untuk terus mensucikan lidah. Mensucikan perkataan sangat disenangi Tuhan. Selain kita akan disenangi banyak orang, lidah yang suci akan keluar kata-kata yang indah, kata-kata kesejukan dan kata-kata berkat.
Sebagai penutup, ayat renungan Mazmur 120:2-3 mengatakan “Ya Tuhan, lepaskanlah aku daripada bibir dusta, daripada lidah penipu. Apakah yang diberikan kepadamu dan apakah yang ditambahkan kepadamu, hai lidah penipu?”
Amsal 10:31-32 “Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat. Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat.” Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati. ***
Erwin Hartono, S.Pd (Guru di Yayasan Pendidikan Kristen Kalam Kudus Pekanbaru)

Berbagi dengan Sesama


Diterbitkan di Harian Metro Riau (Minggu 6 September2009)


Ayat Alkitab berikut ini yang tertulis di Markus 8:35 “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkan-Nya.”
Tidak selamanya apa yang kita miliki menjadi hak kita secara penuh, bahkan sesuatu yang begitu berharga sekalipun harus rela kita berikan untuk kemuliaan dan kasih Tuhan. Sering kali kita mendapatkan rezeki, tetapi terkadang rezeki kita itu ada hak orang lain. Apapun yang kita punyai itu, kita gunakan untuk memuliakan kasih Tuhan dengan memberikan hak orang. Rezeki yang ada pada kita, tidak semuanya bisa kita nikmati, sebab Tuhan telah mengaturnya bahwa di sana ada hak orang lain.
Ketika kita memberikan hak yang kita punyai itu untuk berbagi dengan sesama tentu apa yang telah kita berikan itu akan dilimpahkan Tuhan melebihi yang kita berikan. Begitulah kasih dan anugerah Tuhan atas segala usaha kita. Jangan sekali-kali mengatakan bahwa seluruh rezeki yang kita terima itu adalah usaha kita sendiri sebab di sana ada campur tangan Tuhan.
Ketika Yesus rela memberikan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya pemilik kehidupan ini, Dia memperoleh kehidupan kekal. Sebab nyawa adalah hak Bapak-Nya, untuk itu, kita harus merelakannya diambil oleh pemiliknya.
Sebagai bahan renungan kita diantarkan ayat berikut; 2 Petrus 1:5-7 “Justru karena itu, kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan dan kepada kebajikan pengetahuan dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan dan kepada ketekunan kesalehan dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, kasih akan semua orang.”
Ayat Alkitab ini memesankan kita betapa di tengah-tengah kehidupan ini, kita tidak sendirian. Manusia saling membutuhkan kasih. Apalagi di saat-saat seperti ini, masih begitu banyak di tengah-tengah kita yang memerlukan uluran tangan, mereka membutuhkan bantuan kita. Mereka adalah ciptaan Tuhan, sama seperti kita. Kebahagiaan kita semakin sempurna bila bisa dirasakan oleh orang di sekeliling kita. Itulah yang dikehendaki Tuhan untuk kita perbuat dalam kehidupan ini.
Apa yang kita miliki sesungguhnya ada hak orang lain. Kenapa kita tidak memberikannya? Kenapa kita menyembunyikan rezeki kita? Bukankah Yesus sendiri telah memberikan nyawa-Nya demi kita, demi kemuliaan Bapa-Nya. Pada hal bisa saja dia mengelak mengorbankan nyawanya untuk keselamatan kita, namun hal itu tidak dilakukan-Nya. Sebab Dia sendiri mengakui kebesaran Bapa-Nya. Dialah pemilik kehidupan-Nya. Hanya masalah waktu saja Bapa-Nya mengambil haknya yang adalah nyawa umat manusia.
Ini memberikan kepada kita betapa sebenarnya Tuhan itu baik. Kita diberikan alam, nyawa, rezeki dan lain sebagainya. Sementara kita sebagai yang menumpangkan rezeki kepada-Nya terlalu kikir kepada sesama.
Semua pemberian dan anugerah-Nya itu bukanlah milik kita sendiri, melainkan karena kasih dan berkat-berkat Tuhan yang dicurahkan dan memakai kita sebagai perantara untuk kebahagiaan orang lain di dalam memuji dan menganggungkan kebesaran Tuhan. Kalau memang itu dari Tuhan tentu saja setiap saat Dia bisa mengambilnya dari kita. Alam tempat kita menumpang ini, kalau Dia tidak berkenan lagi bisa saja disita-Nya dari umat manusia yang dipercayakan-Nya untuk memeliharanya. Nyawa yang ada pada diri kita pun bisa saja sewaktu-waktu dijemput-Nya. Begitu juga dengan kekayaan atau rezeki yang kita miliki adalah atas seizin-Nya.
Selama Tuhan masih mempercayai kita menempati alam ciptaan-Nya, selama Tuhan masih memberikan kita kesempatan hidup dan masih mengasihi kita dengan diberikan-Nya kelimpahan rezeki, ada baiknya semuanya itu kita pergunakan untuk kemuliaan Tuhan. Sebab semuanya itu adalah kepunyaan-Nya.
Sekarang tinggal kita, apakah kita masih menyombongkan diri dengan limpahan rezeki yang diberikan-Nya. Tentu kalau kita hidup berdasarkan kasih, segala berkat-berkat dari Tuhan hanyalah untuk kemuliaan-Nya.
Ilustrasi berikut memberikan kita hikmat betapa sebenarnya seluruh hidup kita ini adalah sementara dan pemilik-Nya adalah Tuhan. Godam memiliki anak yang begitu dikasihinya. Namun lantaran sebuah persoalan rumah tangga, si anak harus dipisahkan dari si bapak. Sebab dalam undang-undang Negara kalau ada perceraian, si anak yang masih kecil ikut ibunya.
Betapa hancur sebenarnya perasaan Godam, Anak yang dikasihnya tidak bisa sepenuhnya ada pada dekapannya. Dia rindu ingin mendekap anaknya setiap waktu. Sementara untuk saat ini rasanya dia tidak mungkin menemui anaknya yang ada pada ibunya itu karena sesuatu sebab yang tidak bisa dilakukannya.
Kado ulang tahun yang diperuntukkan untuk anaknya dipulangkan begitu saja. Seluruh keluarga isterinya tidak memberikan kesempatan kepada Godam untuk berbagi kasih. Namun kerinduan Godam akan anaknya, dia serahkan kepada Tuhan. Dalam doa-doanya, dia tidak pernah protes. Sebab Godam yakin semuanya yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan. Anak adalah titipan Tuhan. Godam melihat ujian ini, betapa sebenarnya Tuhan adalah yang empunya.
Tuhan begitu bahagia melihat kita saling berbagi dengan sesama, Tuhan senang melihat umat-Nya hidup untuk kemuliaan Bapa-Nya. Filipi 2:510 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di bawah bumi.” Selamat hari Minggu dan Tuhan memberkati. ***
Erwin Hartono, S.Pd (Guru di Yayasan Pendidikan Kristen Kalam Kudus Pekanbaru)

Rabu, 04 November 2009

Puisi-Puisi Bertema Sumpah Pemuda


Indonesia Berjaya
(By: Erwin Hartono)

Di masa pembangunan ini
Mari kita singsingkan lengan
Sebagai generasi yang cerdas
Dalam mengisi cita-cita dan masa depan
Di alam kemerdekaan ini
Peran pemuda menjadi terdepan
Di dalam memberi arti kehidupan
Bagimu negeri
Sebagai penerus bangsa
Saat ini
Kita diingatkan
Dalam hari Sumpah Pemuda 28 Oktober
Tugas ini berada di pundak pemuda-pemudi
Lewat alam pendidikan
Yang mencerdaskan kehidupan
Demi cita-cita masa depan
Indonesia Berjaya.

Pekanbaru, 25 Oktober 2009



Semangat Pemuda
(By: Erwin Hartono)

Ketika kita mengingat sejarah
Betapa bangsa ini dibangun dari semangat
Didirikan dengan perjuangan berdarah
Di topang lengan pemuda-pemudi
Haruskah kita kini berdiam
Ketika satu-satu pulau terlepas
Ketika produk budaya bangsa diambil
Bangsa lain ingin berkuasa
Haruskah pemuda Indonesia berdiam
Ketika bahasa yang kita perjuangkan
Dihancurkan bahasa-bahasa asing
Lewat sinetron berhamburan kata tanpa makna
Lewat budaya asing
Bahasa kita diporak-porandakan
Bukankah kita berbahagia
Memiliki bahasa persatuan
Bahasa Indonesia
Yang mempersatukan kita dalam komunikasi
Wahai…. pemuda-pemudi bangsa
Kita adalah pemuda andalan
Yang harus terdepan di dalam menjaga
Keutuhan bangsa
Keutuhan tanah air
Dan kesatuan bahasa Indonesia.

Pekanbaru, 25 Oktober 2009

Rabu, 21 Oktober 2009

Dibukakan Jalan untuk Kita


Diterbitkan di Harian Metro Riau (Minggu 23 Agustus 2009)

Kita sering mengalami badai duka yang begitu menyayat hati dan mendatangkan kesedihan yang berkepanjangan. Tak ada seorang pun yang mampu menghibur hati berduka kita. Dan di saat-saat seperti inilah yang tepat kita menjerit kepada Tuhan meminta pertolongan-Nya. Ketika hati kita menjerit dan berduka, Tuhan mendengarkan-Nya. Dia tidak sanggup membiarkan jeritan kita. Tangan-Nya secara ajaib menjulur memberikan pertolongan dan penghiburan.
Ketika itu, Nion yang sedang belajar di sekolah didatangi keluarganya yang mengabarkan ibundanya telah meninggal dunia beberapa jam yang lalu. Ibundanya sudah mengalami sakit sejak lama. Hati Nion benar-benar hancur. Pemandangan di depan matanya tiba-tiba sangat gelap. Saat itu, Nion tidak mau lemah dilihat teman-temannya di sekolah. Dia berusaha tegar sambil meninggalkan halaman sekolah.
Sesampai di rumah, Nion mendapatkan tubuh ibundanya sudah terbujur kaku. Dia merasa kehilangan yang sangat besar, setelah ditinggal ayahnya, kini ibundanya pergi untuk selama-lamanya. Dunia bagaikan kiamat, Nion melihat gelapnya jalan yang bakal dihadapi kedepannya. Masa depannya bakalan suram. Dia tidak akan bisa seperti anak-anak SMA pada umumnya. Untuk melanjutkan sekolah saja sudah syukur.
Tetapi Tuhan selalu membuka dan memberi jalan kepada orang yang meminta dan mengharapkan pertolongan yang sungguh-sungguh. Nion hanya bisa berdoa atas kesedihannya ini. Orang tidak tahu betapa hancur hatinya. Orang tidak mengerti akan kepahitan hidup ditinggal oleh kedua orang tuanya. Semuanya itu dirasakan Nion dalam menapak hidup.
Dia tidak tahu lagi arah masa depannya. Di saat-saat dia membutuhkan perhatian dan dana untuk melanjutkan studinya, di saat-saat itu pula dia harus kehilangan ibunda tercintanya. Ketika ingin menunjukkan kepada orang tua bahwa dia mampu menyelesaikan sekolah SMA-nya dengan nilai yang baik dan ingin melanjutkan keperguruan tinggi dan kelak membahagiakan orang tuanya. Ternyata mimpi-mimpinya itu harus berakhir seperti ini. Tanpa sempat mendapatkan dan mewujudkannya.
Sesulit apa pun hidup, ternyata ada saja jalan. Ketika jenazah ibundanya dikebumikan, keluarga besar Nion dipakai Tuhan di dalam mengulurkan tangan membantu membiayai sekolah Nion. Mereka dengan bersuka ria membantu kesulitan dan menyelesaikan biaya sekolah Nion. Bahkan Nion diberi Tuhan kesempatan sampai ke perguruan tinggi.
Yesaya 43:19 "Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara."
Ayat ini mengajari kita betapa pertolongan Tuhan itu nyata. Tidak ada yang tidak mungkin di tangan-Nya. Seberat apapun badai yang kita hadapi, sebesar apa pun rintangan dan persoalan hidup yang kita lewati, kalau kita berserah diri, Tuhan akan membuka jalan.
Tuhan mampu membukakan jalan di tengah-tengah badai dunia. Tuhan mampu membuat jalan untuk kesucian manusia. Ini bukan janji, melainkan kebesaran Tuhan pada diri manusia yang percaya kepada jalan kebenaran-Nya. Tuhan adalah penolong jalan manusia yang sesat. Kebesaran Tuhan adalah kunci yang membukakan jalan bagi kesesakan hati dan pikiran kita.
Sebab barang siapa berserah kepada-Nya, di sana ada jalan kebahagiaan yang dibukakan-Nya. Tidak ada pajak masuk di jalan Yesus. Seluruhnya jalan tol (bebas hambatan), tidak ada polisi yang memeras karena ditilang, semua sarana jalan yang mulus tanpa bayar, gratis untuk manusia percaya.
Buktinya Nion, yang selama hidupnya mempercayai akan jalan Yesus sesungguhnya. Tuhan akan memberikan jalan terbaik baginya. Hal ini menjadi kenyataan, banyak tangan-tangan keluarga yang menghibur dan memberikan bantuan kepada Nion. Mereka menjadi perantara penyelamat diberikan Tuhan kepada Nion. Nion merasa sangat terbantu dan berhutang budi dengan keluarga besarnya. Mulai saat itu, dia semakin mengakui betapa Tuhan begitu baik kepadanya. Tuhan mengaruniakan keluarga-keluarga di tengah-tengah Nion yang memiliki kasih yang senang memberi.
Mulai saat itu, Nion menjadi orang yang akan memberikan jalan kepada siapa saja keluarga yang memerlukan uluran tangannya. Dia bersyukur Tuhan memberikan kasih kepadanya. Nion tidak pernah menyia-nyiakan kasih itu. Setelah sukses dan memiliki pekerjaan, Nion juga mewujudkan kasih itu dengan senang memberi. Hal ini terbukti, ketika Nion menjadi dewasa dan telah berumah tangga. Dia menunjukkan kasih, dia menunjukkan jalan dan mengulurkan tangan bagi sesama, dia begitu tulus memberikan kasih kepada orang-orang di sekitarnya.
Namun ketika kita hendak berbuat kebaikan, terkadang tidak semulus yang kita bayangkan. Banyak orang yang tidak setuju dengan jalan kebaikan dan kasih yang kita berikan, bahkan keluarga sekalipun. Banyak orang yang memprotes di dalam memberikan jalan bagi orang lain. Sebab di tengah-tengah manusia masih sering kita jumpai orang tidak senang dengan kesuksesan orang lain. Bahkan orang selalu mengungkit kebaikan dan pemberian yang pernah dilakukannya.
Isteri Nion sangatlah pencemburu. Bahkan kepada keluarga suaminya juga dia sangat cemburu berat. Hal ini membuat kehidupan Nion tidak tenteram. Nion dicurigai bila berdekatan dengan keluarga besarnya. Bahkan ada larangan Nion berhubungan dengan keluarga besarnya. Sebab dicuragai bakalan memberikan bantuan secara diam-diam kepada keluarganya itu bila dekat.
Sebenarnya Nion sudah memberikan ajaran pada isterinya untuk menumbuhkan kasih dan senang memberi daripada menerima. Bahwa dirinya bisa seperti sekarang berkat kasih dan pertolongan dari Tuhan yang disalurkan lewat keluarga besarnya.
Untuk itu, Nion memandang begitu penting arti persaudaraan, begitu indah arti kasih. Sebagaimana Yesus mengasihi kita dengan rela mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Betapa penting arti kasih kepada keluarga. Pemisahan yang hendak dilakukan isterinya kepada keluarga besar suaminya ini dipandang Nion sebagai bentuk kesalahan besar. Durhaka pada keluarga.
Tetapi isterinya tidak juga mau bertobat, bahkan semakin hari semakin menunjukkan itikad tidak baik yang hendak memisahkannya dengan kelurga besarnya. Bahkan kasih tidak ada lagi pada isterinya. Nion sudah dianggap sampah yang tak berguna. Nion dianggap sebelah mata oleh isteri dan keluarga besar isterinya. Kesombongan dan sifat individu sudah merasuki isterinya. Akhirnya rumah tangga Nion harus berakhir dengan tragis.
Hal ini juga terjadi di dunia kerja. Banyak orang sengaja membuat rintangan dalam pekerjaan kita. Bahkan terkadang perusahaan atau lembaga tempat kita bekerja sengaja membuat rintangan itu. Bahkan pemilik perusahaan atau sebuah lembaga merasa tidak takut seandainya karyawan atau pegawainya mengundurkan diri. Bahkan pengusaha dan pemilik lembaga ini senang karyawannya hengkang dari tempat usahanya itu.
Namun rintangan yang sengaja dibentangkan di depan mata kita itu tidaklah ada gunanya. Halangan yang sengaja ditimpakan kepada kita tidaklah mampu membendung pertolongan dan bantuan Tuhan.
Rintangan yang dibuat manusia pada kita akan dibukakan Tuhan. Tuhan akan memberikan jalan keluar yang indah. Di saat kita kesulitan mencari jalan keluar, Tuhan membukakannya untuk kita. Dia tidak akan membiarkan kita dihalangi perbuatan dunia ini.
Hal ini juga yang terjadi bagi Nion. Di balik kepahitan berumah tangga yang dialaminya ada rencana Tuhan yang indah. Di balik ketertekanan Nion selama berumah tangga ada jalan keluar yang sedang dirancang Tuhan.
Demikian juga di dunia kerja. Sedahsyat apapun ketidak senangan orang kepada kita, seberat apapun jalan yang bakal kita lewati, Tuhan tidak pernah menutup jalan keluar yang indah. Sebab kita percaya, Tuhan akan membukakan jalan keluar yang akan membawa kebahagiaan kepada kita.
Terkadang Tuhan menyatakan diri-Nya di saat kita sama sekali sudah tidak punya kekuatan atau jalan keluar, supaya di dalam keterbatasan itu kuasa-Nya menjadi nyata. Ketika kita tidak mempunyai kekuatan lagi, saat itulah iman yang murni keluar dari hati kita dan kita mulai menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Kita mencari Tuhan dengan sepenuh hati dan Tuhan berkenan menyatakan dirinya kepada orang yang mengandalkan-Nya. Jadi apapun masalah yang kita hadapi, Tuhan pasti membuka jalan untuk memulihkan kita.
Sebagai bahan renungan bagi kita, ada baiknya kita renungkan kutipan ayat Alkitab berikut ini, Mazmur 31:25;51:19 “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan kupandang hina, ya Allah.” Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati.***
Erwin Hartono, S.Pd (Guru di Yayasan Pendidikan Kristen Kalam Kudus Pekanbaru)


Orang Bebal Tetangga dengan Keangkuhan


Diterbitkan di Harian Metro Riau (Minggu 16 Agustus 2009)

Saat ini banyak kita temui orang-orang yang keras kepala (bebal) di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sebagai orang yang keras kepala terkadang dia tidak menyadari kekerasan kepalanya itu. Bahkan orang lain yang tidak sependapat dengannya dianggapnya sebagai yang keras kepala. Dia tidak mau mengakui kekerasan kepalanya. Malahan menuding orang lainlah yang keras kepala, tidak mau mendengarkannya dan hanya dialah yang harus didengarkan.
Oleh karena itu sangat baik bila kita menghindari berteman dengan orang bebal, sebab kita akan ikutan bebal dibuatnya. Bahkan ada tertulis dalam alkitab, daripada kita berteman dengan orang bebal lebih baik kita menghidarinya sebab bila tetap mempertahankannya kita ikutan bebal.
Ayat berikut mengajari kita sebuah hikmat dalam hidup; Amsal 29:11,21 “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya merendahkannya. Siapa yang memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.”
Kisah ilustrasi berikut merupakan kejadian di salah satu rumah tangga (sebut saja rumah tangga Hison dan Hida). Kehidupan rumah tangga ini tidak pernah harmonis. Tidak pernah sedetik pun di rumah tangga Hison dan Hida ada kedamaian dan ketenteraman. Selalu saja amarah isterinya menghiasi hari-hari sang suami, Hison.
Pada umumnya keluarga menginginkan hidup tenteram dan bahagia. Tak ada seorang pun yang menghendaki sebuah rumah tanggga yang selalu dihiasi pertengkaran dan amarah. Namun sayang ketika tidak ada lagi kedamaian, maka yang muncul adalah ego diri.
Hida seorang isteri yang sangat dimanja sejak kecil oleh orang tuanya. Seluruh kehendaknya selalu dipenuhi kedua orang tuanya. Walaupun itu sebenarnya tidak mendidiknya.
Akhirnya Hida mempunyai sifat sesuka hati kepada suaminya. Si suami hendak dikuasai dengan amarahnya. Sebab kebebalannya melahirkan amarah. Amarahnya tidak pernah bisa dibendung, selain menghidarinya.
Memang sangat sulit rasanya bercerita dan berbagi suka-duka dengan orang bebal. Sebab kalau tidak sesuai dengan keinginannya hanya mendatangkan amarahnya. Hal ini terjadi juga di tempat kerjanya Hida. Bukan hanya kepada suaminya saja dia menunjukkan kebebalannya. Di tempat kerjanya juga dia tidak disenangi oleh teman-temannya. Sebab tidak jarang kalau berbicara dengan Hida, teman-temannya jadi kesal yang ujung-ujungnya akan terjadi pertengkaran dan akhirnya tidak teguran berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Hal ini membuat teman-temannya tidak ada lagi yang dekat dengannya. Teman-teman sekantornya tidak ada lagi yang mau berbicara dengannya. Kalau pun mau berbicara denganya hanya sebatas pekerjaan saja. Sebab orang bebal sangat tidak mau dinasihati. Dia tidak senang bergaul, sebab terlalu egois.
Hison pun tidak jarang mendiamkan isterinya yang bebal ini. Setiap ada diskusi, setiap kali kumpul dengan isterinya ini selalu saja diakhiri dengan pertengkaran. Karena orang bebal selalu menunjukkan keegoisannya. Dia terlalu sombong dengan pendapat, dengan kekayaan dan dengan yang dia miliki.
Tidak ada kerendahan hati pada diri Hida. Baginya orang lainlah yang pantas direndahkan. Dia sekali-kali jangan direndahkan. Puncak emosinya akan semakin tinggi kalau terjadi perendahan padanya.
Ketika ketika kecil Hida terlalu dimanja orang tuanya, inilah yang salah. Sampai-sampai ketika memasuki masa berumah tangga, Hida tak bisa mandiri. Kemanjaan yang diberikan orang tuanya menjadikannya sesat. Hida pun tidak suka bergaul yang akhirnya tidak mengerti dengan kehidupan ini. Tidak pernah merasa bersyukur. Tahunya hanya marah-marah, setelah itu semua keinginannya harus dipenuhi.
Hison melihat isterinya sudah terlalu bebal yang akhirnya mendatangkan dosa bagi Hison. Dinasihati tidak mau, bahkan semakin keras dengan pendapatnya. Memang satu-satunya cara adalah menghindar dari kehidupan orang bebal. Namun mereka terlanjur menjadi suami isteri. Tetapi lama-lama, laki-laki mana yang tahan melihat isteri yang bebal dan sukanya marah. Sebab orang bebal itu bertentangga dengan keangkuhan.
Hal ini terbukti, setiap kali pertengkaran selalu timbul keangkuhan yang menganggap keluarganya lebih terhormat daripada keluarga suaminya. Akhirnya hina menghina keluarga pun terjadi. Hison gerah dengan kehidupan seperti ini, yang membuat rumah tangga ini harus berantakan dan tak bisa dipertahankan.
Ini merupakan gambaran bahwa kita tidak mengingini hal ini terjadi. Namun begitulah kalau berhadapan dengan orang bebal. Kita tidak akan pernah melihat kerendahan hati pada diri orang bebal. Yang ada pada orang bebal adalah amarah.
Di dunia kerja juga tidak jarang kita menemui teman-teman sekantor yang bebal. Mereka tidak disenangi banyak teman sekantornya. Kalau pun orang mau bertegur sapa dengannya hanya sebagai basa-basi yang harus dilalui di dunia kerjanya. Sementara kalau ditanya secara jujur, mereka tidak senang berteman dan berada dekat dengan orang bebal ini.
Orang bebal selalu mengadu-domba sifatnya. Menjelek-jelekkan orang lain dan selalu berfikiran negatif. Dia suka mengadu domba kawan-kawannya. Bahkan, kalau berhubungan dengannya bisa terjadi “manajemen konflik.”
Terkadang hal inilah yang disukai pemilik perusahaan, pemimpin sebuah badan usaha dan pengelola yayasan pendidikan (sekolah). Mereka menempatkan orang bebal ini bak intelnya aparat kepolisian. Akhirnya sesama teman-temannya terjadi perkelahian. Sesama teman-temannya terjadi perpecahan sehingga tidak ada lagi kekompakkan (persatuan sesama karyawan dan pegawai musnah). Hal ini sangat disenangi pemilik usaha, pemilik yayasan pendidikan dan lainnya.
Sebab kalau antar karyawan, antar pegawai tidak ada lagi saling kepercayaan, tidak ada persatuan tentu tidak bisa bertindak kalau ada sesuatu yang merugikan pekerja (seperti berjuang lewat demo). Tetapi di dalam Alkitab, orang-orang bebal yang ditempatkan di sebuah lembaga ini sangatlah dibenci Tuhan. Bagi orang bebal akan lahir keangkuhan, sok berkuasa, sok kaya, sok cantik dan sok lainnya.
Sebagai anak-nak Tuhan, kita sebaiknya menghindari kehidupan yang keras kepala seperti ini. Orang yang keras kepala akan lahir keangkuhan dan kesombongan. Keangkuhan orang ini akan merendahkan orang itu sendiri. Tetapi orang yang rendah hati, akan selalu menerima pujian.
Rendah hati bukan kepura-puraan. Rendah hati bukan untuk disandiwarakan. Rendah hati haruslah tulus, bukan berpura-pura dan sandiwara. Saat ini kebanyakan manusia yang berpura-pura rendah hati dihadapan orang. Pada hal sesungguhnya dia lebih senang dipuji dengan kehebatan dan ketinggian hati.
Dia lebih senang dipuji; “engkaulah yang terhebat, engkaulah yang terpintar, engkaulah yang segala-galanya di antara teman-temanmu, dan engkaulah yang lebih……..” Sebagai renungan untuk santapan rohani kita minggu ini terambil dari Alkitab, Amsal 29:23, “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”
Hal ini memberikan pelajaran rohani buat kita, bahwa kerendahan hati yang tulus akan mendapatkan pujian dari Tuhan dan orang banyak. Kalau kita selalu menyombongkan dan meninggikan diri, maka kita akan direndahkan dan dipermalukan. Sebagai anak-anak Tuhan, sebagai hamba Tuhan, kita hendaknya jangan tinggi hati dan bebal. Tuhan memberkati kita semua, selamat hari Minggu.***
Erwin Hartono, S.Pd
(Guru di Yayasan Pendidikan Kristen Kalam Kudus Pekanbaru)

Ingat Bersyukur


Diterbitkan di Harian Metro Riau (Minggu 9 Agustus 2009)



Mazmur 103:2 menjabarkan “pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya.” Renungan ini mengajari kita untuk bersyukur dalam hidup. Sebab dengan cara bersyukur kita bisa menikmati hidup sesungguhnya. Tetapi orang sering lupa untuk mengucap syukur. Kalaupun ada orang yang ingat bersyukur adalah karena dia mendapatkan rezeki dan kesenangan hidup.
Namun Alkitab mengajari kita untuk bersyukur dalam segala hal, bukan hanya dalam keadaan kesenangan saja, melainkan juga dalam tekanan hidup, kita jangan lupa mengucapkan syukur. Tuhan tidak pernah melupakan kita. Walaupun terkesan hidup ini menderita, namun kalau kita percaya dan mau sungguh-sungguh untuk melayani-Nya, kita akan memetik hidup yang berkecukupan.
Ayat Alkitab tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa Tuhan tidak senang melihat hidup kita bahagia karena limpahan rezeki. Tetapi limpahan rezeki itu sering kita tafsirkan dalam bentuk kepemilikan harta benda semata. Kita tidak pernah menyadari bahwa sebagai manusia, kita telah diberikan Tuhan untuk menumpang di bumi ciptaan-Nya ini.
Di Bumi ciptaan-Nya ini, kita sebagai manusia menumpang sebuah pesawat ruang angkasa yang begitu besar dan tidak pernah turun-turun. Bumi melayang-layang di cakrawala luas bagaikan pesawat yang berputar dengan porosnya mengelilingi matahari. Tuhan tidak pernah meminta tiket pesawat-Nya (bumi ciptaan-Nya). Pada hal manusia menumpang di pesawat-Nya ini seumur hidupnya.
Bayangkan, kalau saja Tuhan meminta bayaran atas tumpangan pesawat-Nya (bumi) ini, berapa uang yang harus kita keluarkan? Tiket pesawat termurah saat ini dari Pekanbaru ke Jakarta yang ditempuh 1 jam lebih ini seharga Rp300.000. Bagaimana kalau kita naik pesawat selama 24 jam sehari, kemudian kalikan kalau kita naik pesawat selama hidup kita. Orang terkaya sekali pun di bumi ini tidak akan sanggup membayar tiketnya.
Tetapi Tuhan begitu baik kepada kita. Kita diberikan tumpangan pesawat (bumi) gratis seumur hidup. Pesawat ciptaan Tuhan (bumi) ini tidak pernah jatuh. Kalau saja pesawat ini jatuh tentu seluruh penghuni bumi musnah. Tuhan merancang pesawatnya begitu luar biasa, tidak bercela dan sempurna. Tidak pernah diservice, bisa terbang hingga saat ini. Bensinnya juga tak habis-habis.
Sudahkah kita mensyukuri ini? Kita jangan melihat dari sisi mata kekayaan saja untuk bersyukur. Kita jangan hanya melihat dari banyaknya rezeki saja baru bersyukur. Tetapi segala hal dalam hidup ini perlu kita syukuri.
Jangan kita hanya mengeluh saja dalam hidup. Lalu ujung-ujungnya mengutuki diri. Hingga akhirnya tega berbuat dosa dengan melakukan segala kejahatan. Seperti ilustrasi berikut ini. Dorem, sering mengeluh dengan ulah PLN yang saat ini sering padam listriknya dengan berbagai alasan penyebab. Memang fenomena listrik PLN yang lebih banyak padamnya di Pekanbaru saat ini sudah sangat meresahkan. Masyarakat mengutuki kinerja PLN di Riau khususnya Pekanbaru.
“Baru saja hidup tiga jam yang lalu, eh kembali listrik padam,” keluh Dorem suatu kali.
“Sialan, brengsek,” kata Dorem ditambah berbagai sumpah serapahnya. Namun listrik tetap mati-hidup (bak kelap kelip lampu diskotek) sepanjang tiga bulan belakangan ini. Sepertinya makian Dorem pada PLN tidak bisa meningkatkan kinerja PLN.
Sebagai umat Kristen, lewat peristiwa ini, kita diajari untuk bersyukur. Dorem adalah salah satu orang yang tidak pernah mensyukuri. Coba kita lihat, di Indonesia saat ini masih ada saudara-saudara kita yang belum bisa menikmati aliran listrik. Kampung, desa dan dusun mereka gelap sepanjang tahun, tidak ada penerangan listrik PLN. Tetapi kehidupan terus berjalan di daerah ini. Rasa syukur masih bisa didengar di daerah ini.
Seringnya padam listrik PLN ini mengajari kita untuk mensykuri hidup. Ternyata di daerah lain di tanah air masih banyak saudara-saudara kita yang bernasib lebih parah dari keadaan kita dalam hal penerangan listrik PLN. Sudah syukur listrik PLN hadir di rumah kita. Toh keadaan saat ini hanya merupakan proses sebab-akibat sesaat saja. Nanti juga normal kembali kesedia kala.
Kalaupun untuk selama-lamanya terjadi pemadaman yang berkepanjangan ini, tetap saja kita masih lebih beruntung dari saudara-saudara kita di daerah lain yang sama sekali tidak teraliri listrik PLN. Ini pelajaran bagi kita, kalau kondisi listrik PLN di Pekanbaru sudah normal, kita diminta untuk hemat energi. Jangan malah menyia-nyiakannya, agar kejadian seperti saat ini tidak terjadi lagi dikemudian hari.
Di sisi lain, ilustrasi berikut, di mana seseorang yang memiliki ambisi yang sangat besar di dalam meraih jabatan dan keadaan financial, sebut saja Ramon, di mana selalu saja mengalami kekurangan. Dia selalu saja kekurangan. Sudah dipercaya dengan jabatan tinggi, malah ingin jabatan lain yang lebih tinggi lagi. Sudah diberikan tunjangan gaji besar malah ingin tunjangan gaji yang lebih besar lagi.
Pada hal sebelumnya, Ramon bisa hidup walau keadaan keuangannya tidak sebanyak sekarang. Tetapi kenapa saat ini, setelah jabatannya tinggi dan keadaan finansialnya cukup baik malah selalu kekurangan? Bahkan dia selalu mengeluh ingin jabatan lainnya. Pada hal sebelum mendapatkan jabatan yang tinggi saat ini, dia paling hanya bisa bermimpi untuk mendapatkannya dan tidak pernah terbesit dipikirannya seperti saat ini.
Tetapi setelah semuanya diraih, dia malah selalu kurang dan kurang terus. Hidupnya selalu saja mengalami kekurangan. Tidak pernah cukup. Pada hal hartanya sudah berlimpah. Sementara saudara-saudaranya masih banyak yang tidak bernasib sepertinya, jauh dari limpahan uang dan harta, tetapi tetap bisa menjalani hidup yang ceria.
Ini membuktikan, Ramon tidak pernah mensyukuri berkat-berkat Tuhan. Ketika berkat itu datang, dia hanya melihat dari sisi kebutuhannya yang meningkat. Kebutuhannya yang turus meroket bahkan melebihi kemampuannya. Walaupun banyak berkat tetapi kalau tidak disyukuri tetap saja mengalami kekurangan.
Lebih baik kita hidup apa adanya, tetapi kecukupan, daripada hidup dengan kekayaan dan harta berlimpah namun selalu kekurangan. Seperti renungan ayat berikut: Filipi 4:6,10-12 “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginannmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Aku sangat bersuka cita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untukku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.”
Kelimpahan yang Tuhan berikan kepada kita bukanlah untuk dihambur-hamburkan dalam kemewahan. Tuhan memberkati kita dengan semua kemewahan dan kelimpahan itu dengan maksud agar kita bisa berbagi dengan mereka yang masih berkekurangan dalam hidup.
Sebagai anak Tuhan, seharusnya kita seperti Rasul Paulus yang memuliakan Tuhan dalam segala keadaan. Baik dalam keadaan kekurangan maupun kelimpahan, kita patut selalu mengucap syukur.
Renungan ini memberikan pelajaran rohani buat hidup kita, bahwa bersyukurlah dalam segala hal. Sebagai anak-anak Tuhan, sebagai hamba Tuhan, sebagai ciptaan-Nya, kita hendaknya selalu bersyukur. Kesulitan hidup, kekurangan, penderitaan dan kelimpahan rezeki patut kita syukuri. Tuhan memberkati kita semua, selamat hari Minggu. ***
Erwin Hartono, S.Pd
(Guru di Yayasan Pendidikan Kristen Kalam Kudus Pekanbaru)