Senin, 14 September 2009

Dosis Kasih yang Tulus


Diterbitkan di Harian Metro Riau 28 Juni 2009

“Kasih ….. tidak mudah tersinggung atau jengkel atau marah; tidak memperhitungkan kejahatan yang diterima – tidak menaruh perhatian atas kesalahan yang dideritanya, tidak bermegah diri, dan tidak sombong.“
Sebenarnya berjalan dalam kasih itu baik untuk kesehatan kita, tahukan kita akan hal itu? Kasih yang tulus dan sesungguhnya tidak pernah mengharapkan apa-apa. Seorang mengasihi berarti dia menaruh perhatian dan tidak mengharapkan imbalan dan balasan dari orang yang dikasihinya.
Namun terkadang di dunia ini, kita sering mendengarkan orang mengasihi, teman-teman mengatakan karena kasih si A bisa naik kelas, karena kasih dia bisa diterima kerja di sini, karena kasih dia bisa menyandang jabatan itu dan lain sebagainya. Tanpa menyadari secara mendalam dan sesungguhnya tentang kasih itu.
Seorang pimpinan dalam perusahaan atau lembaga dan instansi terkadang di dalam memberikan motivasi kerja (menuntut kewajiban) berdasarkan kasih kepada bawahannya. Namun setelah karyawan atau bawahannya akan menerima hak-haknya sebagai pekerja kebanyakan pengusaha, lembaga atau instansi menutup mata dengan ‘kasih’ ini. Bahkan kalau bisa tenaga bawahan diperas habis-habisan dan menekan upah serendah-rendahnya.
Namun anehnya si pengusaha, bos atau pimpinan dalam memotivasi pekerjanya terus mendengungkan kata-kata kasih. Pada hal di dalam dirinya masih berkecemuk ‘realitas kecurangan’ dan ketidak-relaan memberikan upah yang seharusnya diterima karyawan atau bawahannya itu. Pada hal jelas-jelas kasih itu tidak memperhitungkan, kasih itu rela dan tulus, kasih itu tidak merahasiakan, kasih itu bukan memeras dan kasih itu sesungguhnya adalah indah kalau terealisasi.
Tetapi saat ini, kasih yang sesungguhnya sangat jarang kita temukan. Kasih hanya sebatas ucapan semata. Bahkan orang-orang yang mengucapkan kata kasih itu sendiri hanyalah topeng pada saat ini.
Para bos, atasan atau pimpinan di sebuah perusahaan atau lembaga masih mempunyai perhitungan angka-angka untuk mengeluarkan upah pada anak buah. Pimpinan masih saja otoriter dan selalu menganggap dirinya benar sementara anak buah selalu salah. Ini menandakan egoislah yang muncul. Dan ini sangat bertentangan dengan kasih yang dimaksud dalam kekristenan.
Seharusnya seorang pimpinan atau bos baik itu diperusahaan, lembaga, atau instansi menerapkan kasih yang sesungguhnya. Jangan hanya ucapan dimulut saja. Apalagi kalau bos atau pimpinan itu seorang yang hidup di tengah-tengah Yesus Kristus tentu jangan sampai kata-kata dari mulutnya tentang kasih sementara dirinya masih ada ego, masih ada marah, jengkel dan permusuhan (baik permusuhan pendapat maupun permusuhan badan).
Pada hal kita tahu bahwa kasih itu baik untuk kesehatan. Itu benar! Ilmu kedokteran telah membuktikannya, para peneliti telah menemukan bahwa permusuhan menghasilkan stress yang hanya mendatangkan tukak lambung, sakit kepala yang menegangkan dan sejumlah sakit lainnya.
Bila kita berpikir tentang permusuhan, kita mungkin berpikir tentang jenis kemarahan yang kita rasakan tentang sesuatu yang serius terjadi. Tetapi menurut para pakar, jenis itu bukanlah penyebab masalah yang terburuk. Justru hal-hal kecil: Bila pembatu merusakkan sepatu kita ketika menyemir sepatu mencuci atau bila pramusaji mencampur sambal pada makanan kita padahal kita tidak suka pedas, hal itu lazim bukan…? Kasih akan hilang dari ucapan kita dan berganti caci maki dan marah.
Pikirkanlah berapa banyak ketegangan yang dapat kita hindari dengan bersikap lekas memaafkan, dengan menghayati hidup kita menurut 1 Korintus 13 dan tidak memperhitungkan kejahatan yang dilakukan terhadap kita. Bayangkan manfaaat fisik dan emosi dari kehidupan seperti itu!
Jika kita membiarkan diri terbiasa dibelenggu oleh permusuhan, itu mungkin terdengar seperti impian yang mustahil, tetapi sebenarnya tidak!, Karena sebagai orang yang percaya yang dilahirkan baru, kita memiliki kasih Tuhan dalam diri kita.
Jika kita pasrah pada kasih itu, maka itu akan memerdekakan kita, ingatlah ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kuburnya? Lazarus hidup tetapi masih terikat dengan kain kafan. Tuhan Yesus memerintahkan agar ikatannya dilepas sehingga dia dapat bebas berjalan.
Yesus menginginkan kebebasan yang sama bagi kita. Jadi, bersepakatlah dengan Dia. Katakanlah pada kebiasaan maut yang mengikat kita, “Dalam nama Yesus lepaskan aku dan biarkan aku pergi! Aku menaruh sikap permusuhan, sikap tidak memaafkan dan keserakahan di belakangku. Aku akan menghayati Kehidupan Kasih!”
Dosis kasih yang tulus tidak berpura-pura, kasih yang tidak bertopeng dari ucapan saja, kasih yang tidak egois dan ingin menang sendiri yang menganggap diri benar dan orang lain itu salah, kasih bukanlah menjadi bahan ucapan semata-mata. Kasih yang sesungguhnya adalah penerapan pada kehidupan bukan ucapan.
Buatlah dan tanamkanlah akar kasih yang sesungguhnya. Jangan suka mengata-ngatai orang lain, jangan suka bertengkar, jangan egois, jangan suka mengadu domba, jangan suka menganggap diri yang benar, sebab itu hanyalah perbuatan kesia-siaan yang tidak berdasarkan kasih sesungguhnya.
Ingatlah: Tidak diperlukan suatu mujizat pengobatan untuk mengubah kehidupan kita. Yang diperlukan hanyalah sebuah keputusan untuk pasrah pada kekuatan Kasih. Lakukan hal itu dengan benar hari ini, dunia akan indah seperti taman firdaus.
Sebagai bahan renungan bagi kita (1 Korintus 13 dalam beberapa ayatnya berbunyi; sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing; kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong; Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain dan kasih tidak berkesudahan)
Hanya dalam kasihlah kehidupan yang indah terukir. Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati.***

(Erwin Hartono, S.Pd)
(Guru di Yayasan Pendidikan Kristen Kalam Kudus Pekanbaru)

Minggu, 21 Juni 2009

Mimbar Kristen di Harian Metro Riau (Minggu 21 Juni 2009)

Izebel pada Sinetron ‘Suami-Suami Takut Isteri’

Serial Sinetron TV yang bercerita tentang “Suami-Suami Takut Isteri” yang setiap hari disuguhkan kepada penonton sebenarnya kurang mendidik di dalam keimanan kita orang Kristen. Dalam ceritanya dikisahkan peranan isteri jauh lebih besar dan dominan dari suaminya. Di sana juga diceritakan bahwa suami tunduk kepada isteri yang sangat bertentangan dengan Alkitab. Kolose 3:18 menyebutkan, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.”
Kita menganal seorang tokoh Izebel dalam Alkitab, seorang wanita yang jahat kepada suami bahkan sebagai penantang Allah. Namun ternyata sejarah Alkitab itu masih terus berlangsung di dunia ini sampai sekarang. Ajaran Izebel masih hidup walaupun Izebelnya telah tiada. Bahkan secara blak-blakan serial TV di Indonesia mengisahkan tanpa merasa bersalah telah menodai firman Tuhan.
Di dunia ini, sering kita jumpai seorang wanita merasa puas bila menundukkan suaminya. Bahkan sampai-sampai hal ini diturunkannya kepada anak perempuannya untuk menundukkan suaminya kelak.
Sebuah kisah dari kesaksian menceritakan sebuah keluarga yang kulitnya (luarnya) saja harmonis. Sebenarnya keluarga ini dibangun dengan kualitas sesat dan kekuatan iblis. Suatu ketika keluarga suami (sebut saja Sabar) yang miskin papa tinggal di suatu daerah, namun suami yang menjadi isteri wanita tersebut tidak mampu berbuat apa-apa untuk membantu keluarganya itu karena melihat perangai isterinya.
Si suami yang kini hidupnya mapan mempunyai saudara sembilan orang. Kesembilan orang saudaranya itu termasuk dari kalangan keluarga tidak mampu dan harus diputus hubungan kekeluargaan mereka oleh isterinya (sebut saja Edan).
Suatu ketika ponakan dari suaminya datang dari kampung untuk mencari kerja ke tempat Sabar (pamannya). Pamannya termasuk orang yang mampu di kotanya. Namun sayang keluarga ini jauh dari kasih, bahkan lebih menonjolkan egois, iri hati, dan dengki. Pertama-tama sang paman, sangat baik dengan ponakannya, Gunawan. Bahkan ketika pertama kali kerja, Sabar meminjamkan pakaiannya untuk dipakai kerja ponakannya.
Sabar melihat selama di rumahnya, ponakannya sangat baik. Bahkan Sabar pun membuat ponakannya sebuah kamar lagi di rumahnya agar bisa ditempati ponakannya sebab selama ini, ponakannya tidur satu kamar dengan anak laki-lakinya.
Setelah kamar siap, sang paman dan bibinya cekcok. Tidak lain persoalannya adalah masalah Gunawan yang menjadi ponakan Sabar, di mana Sabar sangat baik sekali dengan ponakannya ini. Persoalan ini akhirnya secara tidak langsung menjadi awal pengusiran Gunawan dari rumah pamannya itu. Hal ini akibat iri dan dengki dari isterinya.
Gunawan yang merasa tahu sebagai penyebab pertengkaran antara paman dan bibinya memilih keluar dari rumah itu. Bahkan bukan hanya Guwan saja yang mengalami nasib sama. Seluruh keluarga sang suami tidak ada tempat di rumah mereka. Bahkan suami harus putus hubungan dengan keluarganya sendiri.
Tragis, si suami yang lemah ini menerima perlakuan isteri yang sangat menyimpang dari Alkitab itu. Si suami tidak pedulian lagi dengan saudara kandungnya sendiri akibat iri dan dengki sang istri kepada keluarga besar suaminya. Durhaka Malin Kudang pun terjadi di alam modern ini.
Anehnya ajaran ini diturunkannya kepada anak perempuannya. Tidak ada pertobatan di tengah-tengah keluarga ini. Anak perempuannya dijerumuskan ke dalam lumpur nista dosa. Penghasutan dan pembelaan selalu kepada anak perempuannya yang egois dan memiliki kedengkian kepada keluarga suaminya.
Hingga akhirnya, anak perempuan Sabar itu harus bercerai dengan suaminya karena tidak tahan diperlakukan kasar dan hendak memisahkan keluarga kandung suaminya. Sementara si suami menghendaki hidup seperti yang tertulis di Alkitab, bukan hidup nista seperti kedua orang tua isterinya itu yang tanpa kasih.
Kisah seperti ini sangat banyak kita jumpai dalam kehidupan nyata hingga saat ini. Bahkan menjadi sebuah kebanggaan bila isteri-isteri mampu memutus hubungan suaminya dengan keluarga besarnya. Sungguh tidak berkenan dihadapan Tuhan yang seperti ini. Namun isteri yang bebal seperti ini hampir tidak ada yang mau bertobat. Isteri atau perempuan yang mempunyai sifat seperti ini tidak kenal belas kasihan, tidak peduli apakah tindakannya benar atau salah yang penting ia merasa nyaman dan bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Ia bisa berlaku semena-mena terhadap orang lain, selalu mengancam dan merasa berhak melakukan apa saja yang ia inginkan.
Dalam kehidupan kantoran atau dunia kerja juga hal demikian sering kita jumpai. Seorang wanita bebal ingin menguasai orang lain dan menganggap pikiran dan tindakannya yang benar. Dia tidak sadar lingkungan kerjanya “muak” melihat perangai menguasai yang ada pada diri wanita tersebut.
Kesombongan dan egoisnya ditutup dengan firman kosong. Dari mulutnya memang selalu keluar firman, namun sangat disayangkan sebatas ucapan. Belas kasihan dan kasih tak ada bagi orang-orang sombong dan egois seperti ini. Kerjanya selalu menjelek-jelekkan orang, baik dengan temannya maupun dengan atasannya langsung.
Inilah gambaran Izebel masa kini. Di rumah tangga ada Izebel, di dunia kerja juga ada Izebel. Perempuan yang menganggap dirinya hebat dan hanya dialah yang mampu tanpa mau mendengar pendapat orang lain.
Saat ini, marilah kita memintanya kepada Tuhan agar memberi kita roh yang baru, roh yang diubah oleh Roh Kudus. Roh yang tunduk kepada suami, penuh belas kasihan, pengampunan dan kelembutan.
Gantilah sifat-sifat yang tidak baik dan tidak berkenan di hadapan Tuhan menjadi sifat-sifat yang baik. Tunduklah pada keinginan roh, maka keinginan daging akan sirna dengan sendirinya.
Sebagai renungan minggu ini tertulis pada 1 Petrus 3:1,4-6 yang isinya; “Hai isteri-isteri tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya. Perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasaan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Tuhan memberkati. ***
(Erwin Hartono, S.Pd)
(Guru di Yayasan Pendidikan Kristen Kalam Kudus Pekanbaru)

Mimbar Kristen di Harian Metro Riau (Minggu 14 Juni 2009)

Pokok Anggur

Pohon adalah sejenis tanaman. Bila kita memliki pohon anggur tentu kita akan merawatnya dengan sepenuh hati. Ketika kita memiliki binatang peliharaan kesayangan, tentu kita akan merawatnya dengan baik. Kita memberikan makan yang rutin, menjaga kebersihan hewan tersebut dan memberikan rasa kasih sayang. Perhatian kita terfokus padanya.
Coba kita perhatikan petani anggur di dalam merawat pohon anggurnya. Setiap pagi si petani melihat perkembangan pohon anggur yang ditanamnya. Si petani dengan seksama mengamati dan merawat setiap pokok anggur di lahannya itu. Terkadang kalau ada daunnya yang terserang hama, si petani memetik dan membakar daun dan ranting yang rusak itu. Hal ini dilakukannya supaya ranting yang baik dan sehat tidak tertular dan ikutan rusak.
Kalau memang perlu penyemprotan hama, si petani akan melakukannya. Kemudian, dia akan melangkah ke pokok anggur berikutnya, dan terus seperti itu hingga seluruh pokok anggur di kebunya tidak ada yang terlewatkan dari perawatannya. Setiap dia melihat ada ketidak-beresan pada pokok anggurnya, sekali lagi dia akan melakukan perawatan agar pokok anggur tersebut tumbuh subur dan berbuah lebat.
Si petani rajin ini tentu akan mendapatkan hasil berlimpah dari kebun anggurnya. Hal ini terbukti, dengan perawatan, pemupukan secara teratur, penyiangan dan pengamatan pada daun dan ranting-ranting pokok anggurnya setiap hari. Ini dilakukannya dengan satu tekad agar pokok anggur yang ditanamnya tumbuh subur dan berbuah lebat.
Sedangkan bagi petani yang melas, tentu hasil yang didapatnya kurang memuaskan. Sebab dia tidak seperti petani yang rajin di atas. Dia malas melakukan perawatan pada pokok anggurnya. Daun dan dahan-dahannya yang rusak dibiarkan tanpa perawatan. Ketidak-suburan tanamannya tidak dipedulikan. Akhirnya pokok anggur tersebut berbuah kecil-kecil dan sebagian mati.
Kegiatan petani di atas mengilustrasikan pada kenyataan hidup kita sehari-hari. Orang Kristen mengumpamakan “Yesus adalah pokok anggur yang benar dan Bapak-Nya pengasuh atau petani-Nya.”
Sebagai petani, Bapak-Nya telah merawat dan mengasuh pokok anggur yang diumpamakan Yesus. Dengan telaten dan penuh perhatian, setiap saat, Dia merawat pokok anggur-Nya, sehingga mampu berbuah dan memberikan kebahagiaan pada manusia.
Yesus menjadi penyelamat manusia. Yesus menjadi Allah kita yang hidup yang memberikan penyelamatan bagi dunia ini. Dia telah mengorbankan dirinya demi keselamatan manusia yang percaya.
Nah, saat ini kita menjadi dahan, ranting dan daun pokok anggur itu. Kita harus siap dipangkas bila tidak menghasilkan. Namun kesempatan terbuka luas bagi kita untuk berkembang sebagai umat-Nya yang ditebus dari dosa. Yesus akan merawat kita dengan firman-Nya.
Kita diberikan kebesan berkomunikasi dengan Allah dan mendapat firman-Nya dari Alkitab, tanpa dipungut pajak pulsa. Kita dirawat-Nya dengan memberikan bumi yang indah dan sempurna. Kita diberikan udara yang segar. Kita diberikan tumbuh-tumbuhan, hewan dan bintang-bintang yang indah di langit. Di atur-Nya sedemikian rupa planet-planet, bintang dan tata surya sehingga memberikan peluang hidup bagi umat manusia di bumi.
Sekarang tinggal kita yang mengelolanya. Bagaimana kita merawat tubuh kedagingan kita untuk suci sepanjang hidup. Bagaimana hidup kita bisa bermanfaat bagi orang banyak, bukan malah sebagai benalu. Sebagai pemilik tubuh, tentu kita tidak ingin sedikit dan sedetik pun yang terlupa dari perawatan agar tetap cantik dan segar sepanjang hari.
Sebagai pemilik tubuh, tentu kita tidak ingin merusaknya dengan berbuat yang melanggar perintah Tuhan. Sebab tubuh kita ini adalah pokok anggur, setiap saat Tuhan akan mengambilnya. Tubuh ini adalah sementara. Namun kekekalan hidup dijanjikan-Nya kepada kita yang percaya. Kita telah menandatangani MoU dengan Yesus. Yesus memberikan peluang kepada kita di Taman Firdaus yang sesungguhnya. Kita tentu tidak ingin melewati sedetik pun peluang ini. Untuk itu, renungan alkitab berikut memberi kita bukti nyata, bahwa sesungguhnya Tuhan merawat hidup kita, sekarang tinggal bagaimana kita mampu berbuah yang baik dari firman-firman-Nya.
Yohanes 15:1-5 (Akulah pokok anggur yang benar dan Bapakulah pengasuh-Nya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan aku di dalam Kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau dia tidak tinggal dalam pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Perumpamaan di atas mengatakan bahwa Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar dan orang percaya sebagai ranting-rantingnya. Dari perumpamaan tersebut Tuhan sangat mengharapkan agar kita menghasilkan buah yang lebat. Untuk dapat menghasilkan buah yang lebat orang percaya harus;
Pertama, yang melekat pada pokok anggur yang benar yaitu Yesus. Hidup dalam persekutuan dengan Yesus akan memungkinkan kita menjadi berkat bagi sesama karena buah-buah yang kita hasilkan berasal dari pokok anggur yang benar. Tidak sedikit orang yang mencoba banyak hal di luar Yesus, tetapi hasilnya adalah kesia-siaan.
Kedua, perlu merawat kehidupan rohani kita. Pohon anggur merupakan tanaman yang meminta banyak perhatian jika ingin menghasilkan buah yang banyak dan berkualitas. Tanahnya harus dibersihkan secara rutin, dibentangkan tali-tali di atasnya agar dapat merambat dan dibuatkan penyangga yang akan menahan buahnya yang berat. Untuk mendapatkan tubuh yang indah, kita melakukan perawatan tubuh, tetapi untuk menghasilkan kehidupan rohani yang berkenan di hadapan Tuhan, kita harus merawat rohani kita.
Ketiga, izinkan Tuhan memangkas ranting-ranting kita. Pohon anggur dapat tumbuh subur, tetapi belum tentu menghasilkan buah yang banyak. Untuk dapat menghasilkan buah yang banyak, setahun sekali pohon ini harus dipangkas ranting-rantinya yang tidak berbuah. Terkadang Tuhan melakukan pemangkasan di dalam hidup kita agar kita semakin berbuah lebat. Pemangkasan itu sakit, tetapi hasilnya indah. Tuhan Memberkati.***
(Erwin Hartono, S.Pd)
(Guru di Yayasan Kristen Kalam Kudus Pekanbaru)

Mimbar Kristen di Harian Metro Riau (Minggu 7 Mei 2009)

Mengapa Kita Berdoa

Ayat berikut ini selalu menjadi kebiasaan umat Kristen di dalam hidupnya. Mazmur 18:7 (Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya). Tetapi apakah hanya dalam kesesakan dan kesulitan kita berdoa?
Seorang yang mengalami duka cita disarankan berdoa. Seorang yang mengalami penderitaan dan kesulitan hidup disarankan berdoa. Orang yang mengalami penindasan baik fisik, maupun mental dianjurkan berdoa, bahkan seorang anak kecil yang susah buang air besar disarankan orang tuanya untuk berdoa kepada Tuhan.
Berdoa memang tidak melihat siapa yang menyampaikan doa dan kesulitan masalahnya. Melainkan berdoa merupakan ketulusan dan kesucian hati. Nah di sinilah terkadang kita sebagai manusia sulit melakukannya.
Seorang tetangga kita, mendapatkan rezeki, kita tidak pernah mensyukurinya, yang lahir adalah iri dan dengki. Kita bahkan telah “bernegatif thingking” kepadanya. Segala bentuk kejahatan kita sasarkan kepadanya. “Jangan-jangan suami atau bapaknya melakukan korupsi. Jangan-jangan mereka memakan uang suap sebagai kepala dinas atau kepala sebuah instansi.”
Kita bahkan jarang melihat berkat mereka itu sebenarnya sebagai sebuah usaha kerja keras dan doa yang tulus dari mereka. Bahkan ilustrasi tersebut berlanjut demikian; “Semoga orang itu dipenjarakan. Semoga orang itu melarat kembali.”
Keiirian dan kedengkian kita mulai timbul, bahkan sudah merupakan doa kesyirikan. Doa yang kita panjatkan bukannya mensykuri berkat bagi tetangga kita yang mendapat rezeki itu. Kita telah mendoakannya untuk menderita, kita bahkan lebih senang melihat tetangga kita itu mendapat kesulitan.
Hal semacam ini sangat banyak kita lihat dan rasakan dalam kehidupan manusia. Ketika teman kita naik pangkat atau jabatan, memang pada prinsipnya di depan orang ramai, kita mengucapkan selamat kepadanya. Namun di hati yang paling dalam hampir semua penghuni kantor atau instansi yang temannya naik pangkat itu adalah kutukan dan mendoakannya supaya mendapatkan kesulitan bahkan kalau bisa diturunkan kembali pangkat atau jabatannya.
Doa seperti ini tentu telah menyimpang, bahkan yang tidak dikehendaki Tuhan. Sebenarnya di dalam berdoa kita selalu bersyukur, bukannya malah mengutuki. Ketulusan doa adalah sukacita dan damai sejahtera. Bahkan kita pun diminta mendoakan musuh kita.
Sungguh kesucian sebuah doa sangat agung. Doa orang yang percaya menjadi benteng dan kekuatan, bukan malah menyakiti dan mengutuki. Doa yang menyesatkan dan menyengsarakan orang adalah godaan iblis. Terkadang godaan iblis ini terlalu besar di hati kita.
Seorang teman yang pernah menggelar kasus sidang di sebuah pengadilan negeri di Pekanbaru, antara tergugat dan penggugat terdapat jurang dan pertikaian yang tak mungkin didamaikan. Bahkan teman saya itu, malah mendoakan tergugat agar masuk penjara.
Herannya, bukannya dia mendoakan untuk menyadarkan tergugat. Dia bukannya mendoakan pengadilan ini menjadi alat yang memutuskan perkara yang adil dan benar. Kesimpulannya, setiap persidangan yang digelar menjadi ajang mendoakan bagaimana lawan-lawan tersebut musnah dan masuk penjara.
Apakah Tuhan mendengar doa-doa seperti ini? Jelas Tuhan sangat murka dengan doa ini. Tak ada kuasa yang lebih kuat dari kuasa Tuhan dan kuasa Tuhan akan dinyatakan-Nya manakala hati kita sepenuhnya percaya kepada-Nya.
Segawat apapun situasi dan masalah hidup yang kita hadapi, baiklah kita menjadi tenang supaya kita dapat berdoa. Ketika kita berdoa, jiwa kita dapat bersandar sepenuhnya kepada Tuhan sehingga pertolongan-Nya menjadi nyata.
Kita berdoa adalah komunikasi positif kepada Tuhan. Komunikasi gratis tanpa satelit, tanpa sarana telepon atau HP (SMS). Kita berbincang-bincang kepada Tuhan tanpa batas, tidak dikenai pajak dan selalu didengarkan 24 jam oleh operatornya, yang adalah Tuhan kita.
Tuhan selalu mendengar doa-doa tulus kita. Kenapa kita tidak menggunakan sarana ini untuk berkomunikasi gratis kepada pencipta kita? Sungguh sia-sia hidup kita, bila Tuhan begitu baik mau mendengar semua masalah, semua keluh kesah kita dalam doa, namun kita tidak mau berdoa.
Namun selain keluh kesah dan masalah yang kita perbincangkan dalam doa, Tuhan selalu menunggu ucapan syukur kita. Jangan hanya dalam penderitaan saja kita berdoa, namun dalam suka cita dan kegembiraan kita seharusnya juga bedoa.
Jangan kita ingat pada Tuhan pada waktu mengalami kesulitan saja. Hendaknya kita juga bersyukur pada waktu senang, sehingga berkat-berkat yang dicurahkan Tuhan pada kita semakin melimpah. Anugerah-Nya menjadi seperti air mengalir. Tuhan Yesus begitu baik melimpahkan berkat-berkat-Nya lewat doa yang kita lantunkan dengan tulus dan ikhlas. Jangan ada dendam, dengki, sakit hati dan bentuk kejahatan hati lainnya dalam doa. Sebab doa yang didengar adalah doa yang tulus dan membawa kedamaian.
Mulai hari ini, kita manfaatkan sarana komunikasi jarak jauh kepada Tuhan lewat doa. Semuanya gratis dan bebas pulsa. Bedoa tiada henti menjadi nafas dan hidup orang Kristen yang percaya. Sebagai bahan renungan bagi kita, ada tertulis di kitab Mazmur dan Matius sebagai berikut;
Mazmur 56:10 (Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin bahwa Allah memihak kepadaku)
Matius 7:7 (Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu). Tuhan memberkati. ***

Kamis, 28 Mei 2009

Lilin Kecil VS Kesombongan

Renungan Kristen di Harian Metro Riau

Konon di sebuah negeri hiduplah orang-orang yang menyombongkan diri. Sayang keseombongan mereka itu akhirnya merendahkan diri sendiri. Bermula ketika sebuah paku yang kecil berkarat dan tidak menarik sama sekali untuk dipandang. Setiap yang memandang, merendahkannya sebagai paku yang berkarat, tak berguna dan tentu saja mudah untuk ditaklukkan.

Sebuah parang yang besar dan tajam sengaja menantang teman-temannya akan kemampuannya menundukkan dan menghancurkan si paku. Dia pun beraksi menundukkan si paku. Berkali-kali bilah parang yang besar dan tajam itu menghantam tubuh si paku, namun apa yang terjadi. Si parang yang tajam itu akhirnya tumpul dan tak mampu menghantam tubuh si paku kecil dan berkarat. Dengan rasa malu akhirnya paku menyerah dengan mata parangnya yang sudah tumpul.

Akhirnya dengan arogan si palu pun maju dan ingin mencoba kekuatannya. Memang si palu mampu menaklukkan si paku bahkan paku bisa masuk ke dalam kayu atau beton setiap kali titokokkan. Namun hal itu tidak bisa memusnahkan si paku yang berkarat. Si paku tetap saja pada wujud semula walaupun dia telah masuk ke dalam kayu atau beton yang titokok kan. Akhirnya si palu menyerah, tak mampu menghancurkan tubuh si paku.

Kembali Keduanya gagal menaklukkan si paku yang berkarat ini. Namun sebuah gergaji besi sesumbar akan mudah menaklukkan si paku. “Aku akan mengoyak-ngoyak dan menghancurkan tubuh si paku sampai lumat,” katanya dengan bermegah diri.

Dia pun mulai menggergaji paku itu. Si paku bisa patah berkeping-keping. Namun si paku tetap utuh, tak bisa musnah sama sekali. Dengan rasa malu si gergaji besi menyerah.

Akhirnya giliran terakhir, si lilin kecil. Teman-temannya semua menganggap remeh si lilin kecil. Mereka tidak percaya bahwa si lilin kecil mampu memusnahkan si paku berkarat yang telah mempermalukan mereka.

Secara berlahan dan pasti si lilin kecil tampil, tetapi dia tidak pernah menyombongkan diri. “Saya akan coba semampu yang kumiliki,” katanya pada teman-temannya. Dia tidak pernah menyepelekan. Dia tidak pernah menganggap remeh (sombong) pada diri si paku dan teman-temannya.

Berlahan-lahan namun pasti, tubuh si paku meleleh. Lama ke lamaan akhirnya tubuh si paku sama sekali meleleh dan hancur. Ternyata dengan api yang dihasilkan si lilin kecil telah mampu menaklukkan si paku. Dia bukan saja menghancurkan, namun melelehkan seluruh paku itu menjadi tak berbentuk.

Ternyata si lilin kecil, walaupun dengan lemah lembutnya, dia mampu menghasilkan tenaga yang maha dasyat. Tuhan telah memberikan kekuatan yang sempurna padanya untuk mencairkan tubuh si paku.

Dari ilustrasi di atas, selama ini segala kesombongan dunia yang terjadi dan menjadi kebanggaan bagi sebagian kita. Seseorang yang baru saja menduduki jabatan di perusahaan atau instansi pemerintah terkadang muncul kesombongan. Menganggap segala keberhasilan yang diraihnya merupakan usahanya sendiri. Lupa daratan, lupa segalanya. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa keberhasilannya adalah berkat dari Tuhan. Keberhasilannya adalah bantuan dari teman-teman sejawatnya.

Namun anehnya, terkadang kekristenan kita, juga terkesan sombong dan bermegah. Menganggap sebagai orang yang memiliki harta yang lebih dari anggota jemaat yang lain. Menunjukkan kemewahan dan menyepelekan orang lain. Orang lain di anggap rendah. Orang lain dianggap “sampah.” Hanya dialah yang terhormat. Hanya dialah yang memiliki harta yang banyak. Tak pernah memandang sekitar. Yang dipandangnya hanya dirinya sendiri. Orang lain dianggapnya lebih rendah darinya. 

Bahkan hanya dialah yang pantas dihormati, diperhatikan dan pusat segala pandangan mata. Walaupun dia pergi ke gereja hanya sebagai pameran mobil, cincin emas, kalung berlian serta gelang emas yang besar. Hal inilah yang membuatnya sombong.

Baru mempunyai harta sedikit, terkadang kita langsung sombong. Kesombongan hanya akan membuat kemaluan diri. Orang-orang sombong pasti akan mendapatkan buah dari kesombongannya itu. Sebagai manusia, kita tak sepantasnya sombong. Sebab Tuhan saja sebagai penguasa hidup kita tak pernah sedikit pun menyombongkan diri. Pada hal kita telah diberikan dunia dan segala isinya. Kalau Tuhan mau, semua yang kita miliki secara sementara itu bisa diambilnya. Sebab hidup hanyalah sementara. 

Kita hanya penumpang sesaat di dunia ini. Jadi tak ada yang pantas untuk disombongkan. Ingatlah selalu ayat renungan pada buku Amsal 11:2 (Jikalau keangkuhan tiba, maka tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati).

Yesaya 23:9 (Tuhan semesta alam yang telah memutuskannya untuk mematahkan kesombongan, untuk menghinakan segala yang permai dan semua orang yang mulia di bumi). ***


Erwin Hartono, S.Pd
Guru SD Kristen Kalam Kudus Pekanbaru



Rabu, 13 Mei 2009

Nilai Praktek Bahasa Indonesia Semester II 2009

Nilai Praktek Bahasa Indonesia
(Visualisasi Puisi) Semester II
Kelas VIA3 dan VIA4 SD Kalam Kudus Pekanbaru, April 2009



                                                  Kelas VIA3

1. Willy Anthony (87)                          
2. Felicia Wijaya (90)
3. Yenni A (83)                                       
4. Calvin Enrico (79)
5. Wincent (77)                                      
6. Rio Nike (92)
7. Elfina (92)                                           
8. Gracia Johan (92)
9. Joshua (86)                                       
10. Rockyano (89)
11. Meilita Kainardi (88)                  
12. M. Dhuana (86)
13. Agustine (86)                                  
14. Messy Rusita (82)
15. Juwita (90)                                      
16. Salim Wijaya (82)
17. Angela Stevani Indra (83)        
18. Eric Winata (83)
19. Andy (92)                                         
20. Dea Jolie Chrestella (95)
21. Rinaldo Jonathan (70)               
22. Anna Emilyn (95)




                                       Kelas VIA4



1. Vionna (73)                                          
2. Mansell Xaverius (94)
3. Clarina Efendi (87)                          
4. Louisiana (79)
5. Kelvin Kurniawan (79)                   
6. Willy Wibowo (85)
7. Aginta Livia (86)                               
8. Yenti (84)
9. Willy (85)                                            
10. Graciana Mulyani (84)
11. Sharon Cristy (94)                         
12. Fanny (80)
13. Adeline Liu (86)                             
14. Jesisca Romauli (87)
15. Elfira Listiyani (93)                      
16. Danies Stevandies (76)
17. Louis Juliendo (85)                       
18. Agus Alek Sander (76)
19. Alfindo Juliendo (85)                   
20. Julharman Asverawan (76)
21. William Fernandes (87)              
22. Steven (87)
23. Jveliana Fransiska (81)              
24. Jefri (85)




Guru Bidang Studi

              ttd

Erwin Hartono, S.Pd





Senin, 20 April 2009

Menara Kembar dan Tempat Pemujaan Umat India di Malaysia